(akhir akhir ini aku menulis notes menggunakan bahasa indonesia. Merasa
tidak enak dengan teman-teman yang natively memakai bahasa inggris.
Tapi berhubung mau mengasah kemampuan bahasa baku indonesia ku ...
biarlah.. ^^)
Tadi sembari mengelus-elus gitarku,aku mendengar deruan suara motor
dari jalan (apartemenku menghadap langsung ke boston common dan begitu
aku bisa mendengar apa-apa yg terjadi di bawah sana ^^). Sesaat waktu
itu berhenti berdetak dan aku mendapati diriku menghirup suasana ketika
aku masih berlibur di cilacap, berada di alam toko kelontong milik
emak-engkong ku, dan yang terdengar hanya suara motor bebek melintas
atau tukang bakso mengenting mangkoknya. Perasaan itu begitu damai dan
sederhana. Tidak pernah ada di pikiran model juicy couture terbaru yang
diingini, harapan berlibur ke hawaii saat spring break yang tak kunjung
terwujud karena tiada yg bisa menemani, dan tidak pula ada setitik niat
untuk bermain game NDS terbaru. Hidupku amat tenang dan enteng, meski
kadang aku mencemburui teman-temanku yang memiliki Play Station
ter-gress, atau karena mereka menggunakan ala mode yang paling trendy
saat itu yang tidak bisa aku beli. Dan jangankan jalan-jalan bersama
teman ke Marina untuk wondow shopping ala anak SD, pergi keluar membeli
chiki pun aku harus menabung (not mention ibuku tidak mengijinkanku
keluar menghambur hamburkan uang yg tidak jelas-begitu katanya).
Namun sekarang aku melihat betapa beruntungnya anak-anak SD-SMP saat
ini yang mendapatkan apa yang mereka mau. Jaman sekarang itu, anak
kecil sudah memiliki blackberry kalau kalau dia mendapat friend request
di facebook, atau simply YM-an sekedar in-touch dengan temen2
sekelasnya yang semenjak liburan tidak bersua meski rumahnya hanya
beberapa blok.
Dulu, permainanku hanya gambar mini, bermain dengan ayam (ya, aku dan
adiku rajin membeli ayam), dan bermain dengan tetangga sebelah (anak
anak sopir ayahku). Hal yang cukup mewah bagi kita adalah saat kita
memasak puding murahan (untuk membeli bahannya aku mengorek orek
tabunganku) sembari menunggu dia sholat di kamarnya yang hanya berbilik
bambu dan beralaskan tanah (situasi sesungguhnya). Kadang kala di waktu
sore kita memeli tebu dan menggigiti tebunya dan menyerap habis airnya.
Kalau tetanggaku tidak di rumah, aku biasanya bermain mur dan baut di
bengkel ayahku yang kecil, atau simply dijadikan bahan ejekan
tetanggaku satunya (bagai karakter antagonis hahaha) sembari aku
bermain jangka di depan rumahku.
Untuk mode? aku menghutang Rp 100 di tetangga antagonis ku itu (ibunya
membuka salon dan menjual pelbagai macam accessories murahan dari
plastik) untuk membeli anting mainan atau sekedar kalung yang terlihat
jelas tidak ada kreasinya "babar blas", namun tetap mengiris hatiku
karena aku tau aku tidak akan bisa memilikinya.
Beruntungkah anak2 jaman sekarang dengan segala fasilitasnya? Aku
menimbang nimbang kembali, beruntungkah mereka? beruntungkah aku yang
sekarang?
By no means, mereka (aku-in extend) telah termanjakan oleh hal hal
sekuler yang mencengkeram kulit mereka termat kuat, dan membuat mereka
lupa apa yang TIDAK mereka miliki.
Mereka (aku) lupa mereka tidak memiliki ketidak beruntungan untuk tidak menikmati sekolah.
Mereka (aku) lupa mereka tidak memiliki nasib untuk memikirkan bagaimana mencari makanan untuk hari ini.
Mereka (aku) lupa mereka tidak memiliki jalan hidup yang keras
Mereka (aku) lupa mereka tidak memiliki ayah ibu yang tidak lengkap.
Hedonisme telah mengunyah mereka (aku) habis habis. Hedonisme membuat
mereka (aku) tetap melihat ke atas dan lupa akan yang bawah.
Dan yang paling menyedihkan, anak dibawah umur 15th telah menjadi hedonis tanpa mereka sadari.
Lalu, jika semua fasilitas itu ada dan diberikan kiepada mereka dengan mudahnya, apa yang mereka pelajari dalam hidup?
Karena aku berpikir, pengalaman-pengalaman masa kecil dan didikan orang
tua lah yang akan membentuk pribadi seseorang di masa depan.
Tidak memiliki uang untuk membeli jajanan yang aku inginkan membuatku
belajar kerendahan hati. Aku memang tidak memiliki uang untuk membeli
anakmas, tapi orangtua ku masih punya uang untuk mempertahankan dapur
kita supaya tetap mengepul.
Tidak mendapatkan apa yang aku mau membuatku belajar aku harus berusaha
keras untuk mendapatkan sesuatu. There is no such thing as a free lunch.
Tidak memakai pakaian atau mode terbaru saat itu membuatku belajar
penampilan bukan segalanya. Sangat memalukan mendapati orang orang yang
trendy dengan otak bersawang laba laba.
Tidak diijinkan untuk keluar bersama teman-temanku mengajarkanku untuk
1) lebih dekat dengan keluargaku, dan 2) kenekadan untuk mengejar
seuatu yang tidak boleh. ^^
Aku ingat dulu ibuku melarangku untuk bermain ke rumah teman pada hari
minggu. Padahal, aku selalu protes kenapa aku selalu tidak diijinkan,
mih (mamih)? aku juga anak anak yang masih ingin menikmati masa
kecilku! akhirnya aku menunggu ibuku menidur siangkan adik laki-lakiku
dan aku dengan nekad membopong sepedaku melewati pagar rumah (supaya
tidak kedengaran).
Kenangan masa kecilku yang begitu menyedihkan (ya, aku ingat-hanya
beberapa saja yg menyenangkan-), dimana orang tuaku masih bertarung
melawan nasib supaya kita semua bisa hidup lebih baik, membentuk
kepribadian ku yang luar biasa sekarang ini (luar biasa keras dan
nekadnya). dan aku mencintai kenekadanku. Aku mencintai sifatku g keras
kepala, dan terutama ku mencintai sifatku yg selalu ingin belajar
(meski terkadang orang tidak menyukainya). :)
Mungkin pemberian segala fasilitas itu merupakan tanda cinta. Tapi aku
pikir itu tanda cinta yg salah (ya termasuk ayahku). Dengan segala
kemudahan, si anak tidak akan belajar apapun dan terutamanya, tidak
bisa mensyukuri apapun. Dulu aku berpikir kejamnya ibuku menyuruhku
melakukan pekerjaan rumah dimana anak-anak lain sedang bersenang senang
keluar naik becak. Aku membenci pekerjaan rumah, dan aku membenci ibuku
untuk menyuruhku melakukannya. Ibu dan ayahku di mataku adalah seorang
otoriter yang memiliki kuasa penuh atasku dan memanfaatku, itu pikirku.
Tapi masih terngiang kata-katanya "suatu hari kamu akan berterima kasih
karena mami melakukan ini". And i am. Fully grateful.
Aku dulu takut akan mami-ku. Dia bagaikan sosok baladewa kejam yang
suka memberiku pekerjaan tanpa cinta. Well, keluargaku adalah tipe
keluarga layaknya keluarga indonesia: tidak bisa mengungkapkan cinta.
Memarahi tanda sayang, membentak tanda perhatian, dan mengomel tanda
peduli. Waktu masih kecil, masih belum bisalah aku menangkap esens dari
kelakuannya. Sekarang, aku telah mengerti segala omelan-omelannya dan
biasanya aku hanya membalas dengan senyuman. :)
Ayahku adalah sosok yang keras, sok demokratis (padahal termasuk
kalangan otoriter). Dan jika ibuku adalah baladewa, ayahku ibaratnya
adalah Buddha. Dia yg paling benar :) namun entah kenapa waktu kecil
ayahku lebih sayang padaku ketimbang ibuku. Ayahku membelikan apa yg
aku mau, mengijinkan apa yg tidak diijinkan ibuku, dan selalu bangga
padaku. (Aku ingat dulu aku ingin menjadi pengacara untuk melindungi
ayahku dari segala permasalahan hukum)
Terkadang aku mencemburui orang orang yang hidupnya belum diracuni oleh
sekulerisme. Apalagi setelah aku sekolah di Boston ini. Duh. Rasa
rasanya sulit menghindari hal itu. E-mail ku selalu terupdate oleh CS
dari berbagai toko langgananku karena ada sale, atau simply pegawai
Barneys meneleponku untuk memberitahu bahwa make up favoritku terupdate
season itu. Kadang aku malu dengan orang orang yang masih bergubuk ria
di bawah jembatan. Aku malu dengan pengeluaranku, dengan uang bulanan
yang diberikan kepadaku, dan segala fasilitas yang kudapatkan dengan
mudahnya: meminta papi. Sedangkan di luar sana (jangankan di luar, di
dalam keluarga besarku pun) masih ada orang orang yang sedang
kebingungan memikirkan bagaimana caranya untuk survive di hari esok.
Malu itu datang saat aku makan di restauran, malu itu datang ketika aku
memesan dessert, malu itu datang ketika aku membeli pulsa telepon, malu
itu datang ketika aku berbelanja online.
Dan Malu itu terus menghantuiku. Dan aku tahu, aku harus mulai melakukan sesuatu.
Begitu juga orang tua orang tua di luar sana.
p.s: aku belajar "EMOSI ITU TIDAK BAIK" ketika aku melempar raket
badminton ke kepala fafa, adikku, di pekarangan tetanggaku yang
menghasilkan kebocoran kepala (HAHAHAHAHAHA). Sejak saat itu, dia
menghindari aktivitas badminton hanya berduaan.